|
Jika ditanya peristiwa apa yang paling fenomenal terjadi di tahun 2009 yang berkaitan dengan elektronika, maka saya akan mengatakan facebook, bencana gempa Padang, gangguan keamanan dan kasus KPK. Mengapa bencana alam dan kasus-kasus ini terkait dengan elektronika ? Pertama, perkembangan Facebook yang cukup fenomenal dan menurut sebuah literatur tidak kurang sudah 12 juta orang yang tercatat sebagai pengguna FB (singkatan dari Facebook) di Indonesia. FB adalah aplikasi jejaring sosial yang paling popular dimana komunitas pengguna dapat saling berinteraksi satu dengan yang lainnya dan kekuatan FB terletak pada komunitas ini. Kalau sekiranya FB hanyalah komunikasi antara orang-perorang saja barangkali tidak lah menjadi fenomenal seperti saat ini. FB hanyalah aplikasi internet web 2.0, dimana dia memerlukan media elektronik seperti komputer dan perangkat mobile. Aplikasi FB (dan belakangan Twitter) paling tidak adalah hal yang mendorong peningkatan penjualan handset Blackberry. Operator selular berlomba-lomba menjaring pelanggan dengan menawarkan BB (singkatan Blackberry) dengan fasilitas FB dan yang penting tarifnya adalah flat rate. Padahal di tahun sebelumnya BB tidaklah terlalu populer dikalangan masyarakat kebanyakan, BB hanya terbatas pada kalangan tertentu karena applikasi yang tersedia saat itu hanyalah layanan push email. Kunci dari sukses FB dan BB adalah produk yang inovatif dan kreatif. Peristiwa kedua adalah bencana gempa Padang yang sangat memilukan karena banyaknya korban kemanusiaan. Lalu apa kaitan peristiwa alam ini dengan elektronika ? Betapa tidak, karena hal utama yang pertama kali harus di pulihkan adalah listrik dan telekomunikasi. Maka segala kemampuan di kerahkan untuk memulihkan kedua hal tersebut. Karena listrik dan telekomunikasi adalah sarana vital untuk penyelamatan korban.  Dalam hal penyelamatan korban, electroniclab mengaris bawahi peralatan standar yang cukup penting yang harus dimiliki oleh regu penyelamat. Regu penyelamat dari luar negeri dilengkapi dengan peralatan yang dinamakan Human Life Detector. Karena kenyataannya banyak korban yang tertimbun di bawah reruntuhan dan hal pertama yang mesti dilakukan adalah mendeteksi korban yang masih hidup yang harus segera di temukan dan diselamatkan. Pada dasarnya Human Life Detector menggunakan prinsip Doppler seperti halnya pada sistem radar. Sistem bekerja dengan frekuensi ultrasonic atau gelombang mikro tertentu yang dapat menembus reruntuhan sedalam beberapa meter. Dengan prinsip Doppler dimungkinkan untuk mendeteksi gerak atau detak jantung manusia dibawahnya. Hal ini memang bukan tergolong teknologi baru, prinsip yang sama telah dikembangkan pada sistem radar seperti radar cuaca, radar seismic serta dibidang kedokteran misalnya USG dan fetal Doppler. Peristiwa lain adalah tentang ganguan keamanan dimana kepolisian tahun 2010 di nyatakan berhasil menumpas gembong teroris. ElectronicLab tidak menyoroti terorisme-nya tetapi yang menarik adalah penggunaan robot yang menjadi andalan dalam situasi yang cukup berbahaya. Robotik adalah bidang yang menarik bahkan kontes robot cerdas sudah menjadi agenda tetap di kalangan mahasiswa dan yang membanggakan kegiatan ini sudah diperhitungkan di tingkat dunia. Tak kalah menariknya adalah peristiwa (kriminalisasi) KPK tentang penyadapan ditahun 2009. Penyadapan sendiri adalah teknologi elektronika yang menarik untuk di simak bagiamana sistemnya apakah bisa dikembangkan untuk data. Tetapi hal lain yang patut di telaah adalah perlunya alat lie detector yang super canggih untuk memastikan siapa yang berbohong dalam hal ini (jika benar terjadi).  Apa benang merah dari peristiwa dan pengalaman tahun 2009 sebagai resolusi tahun 2010. Dari berita ekonomi yang kita baca di media massa, di awal tahun 2010 ini perdagangan bebas Asean dan Cina (FTA) yang dicanangkan 8 tahun lalu suka atau tidak suka sudah harus diimplementasikan. Di satu sisi kita mesti cemas karena industri Indonesia yang berbasis teknologi (elektronika khususnya) tidaklah cukup dapat bersaing dengan negara tetangga apalagi dengan negeri tirai bambu. Kita cukup yakin dan dapat dipastikan semua produk eletronika yang terkait dengan peristiwa fenomenal di atas adalah produk import. Industri elektronika dalam negeri polanya sepanjang pengamatan masih sebagai tukang jahit, masih sebatas assembling atau perakitan. Di sisi lain dengan perdangangan bebas ini, ada janji ketersediaan bahan baku. Bagi praktisi elektronika yang perlu adalah ketersediaan komponen sebagai bahan baku utama. Masalahnya adalah apakah kita sebagai praktisi (sarjana elektronika) cukup kreatif dan inovatif mengembangkan produk-produk elektronika, semoga.
|